Tampilkan postingan dengan label psikologi perkembangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psikologi perkembangan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Desember 2012

Tugas Perkembangan dan Cara Merangsang Perkembangan Anak Usia 0-5 tahun

 
Setiap anak biasanya memulai periode perkembangan yang berbeda pada sekitar usia yang sama, misalnya anak saya telah mampu berjalan sendiri tepat pada usianya yang ke 12 bulan, sedangkan ada anak lainnya yang telah berusia 15 bulan belum mampu berjalan sendiri dan sebagainya.

Oleh karena itu, selaku orang tua ada baiknya untuk menyiapkan, membimbing, dan melatih anak untuk menguasai tugas perkembangannya sesuai norma agar ia dapat berhasil ke periode berikutnya.

Keterlambatan di bidang domain pada usia tertentu cendrung mengganggu perkembangannya dalam bidang terkait, oleh karena itu ada baiknya kita mengetahui apa saja yang seharusnya telah dapat dilakukan anak apada usianya dan bagaimana merangsang perkembangannya dan bila pada usia tersebut anak belum bisa melakukannya maka ada baiknya diperiksakan ke bidan, perawat, atau dokter.

Selain itu kegagalan dalam menguasai tugas perkembangan dapat mengakibatkan beberapa hal sebagai berikut:
  1. Membuat anak merasa rendah diri dan dapat menimbulkan rasa tidak bahagia.
  2. Mengakibatkan ketidaksetujuan sosial yang sering disetai dengan penolakan sosial. Anak dianggap tidak matang dan kekanak-kanakan.
  3. Menyulitkan penguasaan tugas perkembangan yang baru

Adapun tugas perkembangan untuk masa lahir sampai 6 tahun menurut Havighurst yaitu:
  1. Belajar berjalan.
  2. Belajar makan makanan padat.
  3. Belajar berbicara.
  4. Belajar mengendalikan pembuangan sampah tubuh. 
  5. Belajar membedakan jenis kelamin dan kesopanan seksual.
  6. Mencapai stabilitas fisiologis.
  7. Membentuk konsep sederhana mengenai kenyataan sosial dan fisik.
  8. Belajar berhubungan secara emosional dengan orang tua, saudara kandung, dan orang lain.
  9. Belajar membedakan yang benar dan yang salah serta mengembangkan nurani.

Adapun cara untuk merangsang perkembangan anak antara lain: 

           A. Umur 0-3 bulan.
  • Sering memeluk dan menimang bayi dengan penuh kasih sayang.
Sambil memeluk dan menimangnya, ada baiknya kita mencium, mengelus, dan membisikan kata kalau kita sayang padanya. Walaupun ia masih terbilang kecil tetapi sesungguhnya ia telah mengerti apa yang kita ucapkan dan kita lakukan. 
  • Ajak bayi tersenyum dan berbicara.
Senyuman dapat memberikan sinyal bahwa kita sayang padanya dan berbicara dapat menstimulus pendengarannya dan membantu bayi anda untuk memperbanyak kosakata, selain itu pada usia ini anak sudah bisa membalas senyum ketika diajak berbicara atau tersenyum dan mengoceh spontan atau bereaksi dengan mengoceh.
  • Perdengarkan musik pada bayi. 
Hal ini juga bertujuan untuk menstimulus pendengaran dan menambah kosakatanya.Selain itu dengan musik dapat membuat bayi anda menjadi lebih rileks dan dapat membantu menstimulus perkembangan otaknya misalnya saja dengan mendengarkan musik klasik (mozerat) dan Al-quran untuk yang beragama islam.
  • Berikan anak sebuah mainan yang digantung berbentuk benda apapun yang berwarna cerah yang dapat bergerak dan berbunyi sehingga anak dapat dilihatnya.
          Benda tersebut bertujuan utuk menstimulus pendengaran dan penglihatannya.
 B. Umur 3-6 bulan.
  • Gerakan benda ke kiri dan kanan, di depan matanya.
Hal ini dilakukan untuk menstimulus penglihatan bayi, selain itu juga dapat membantu apakah bayi anda memiliki masalah pada penglihatannya, misalnya mata juling , tidak fokus, dan sebagainya.
  • Perdengarkan berbagai bunyi-bunyian.
Hal ini juga untuk merangsang indra pendengaran, menambah pengetahuan tentang berbagai macam bunyi, dan dapat menirukan bunyi, misalnya bunyi suara ayam, bebek, kodok, ikan, kuda, macan, dan sebagainya.
  • Sering tengkurapkan bayi. 
Pada masa ini bayi sudah mulai berbalik dari telungkup ke telentang dan dapat mempertahankan posisi kepala tetap tegak. Oleh karena itu ada baiknya menstimulus bayi untuk tengkurap.
  • Beri mainan benda yang besar dan berwarna.
Pemberian mainan ini bertujuan untuk merangsang gerak motoriknya baik motorik halus maupun kasarnya dan pada usia ini bayi sudah bisa tersenyum ketika melihat mainan atau gambar yang menarik.
  • Umur 6-12 bulan. 
  • Ajari bayi duduk.
  • Ajari memegang dan makan biskuit sendiri.
Hal ini bertujuan untuk mengajarkan kemandirian dan terbiasa memakan makannya sendiri.
  • Ajak main cil-luk-ba.
Biasanya seusia ini anak sudah mulai senang bermaian tepuk tangan dan ci-luk-ba.
  • Ajak bicara sesering mungkin.
Dengan mengajar anak bicara sama saja kita membantu anak untuk cepat dapat berbicara karena ia dapat banyak menyerap banyak kosa kata, selain itu juga dapat membangun kedekatan kita dengan bayi.
  • Ajari memegang benda kecil dengan dua jari.
Hal ini untuk menstimulus gerakan motoriknya.
  • Latih mengucapkan ma.. ma.. pa.. pa..
Hal ini bertujuan agar bayi dapat mengenal anggota keluarganya dan meniru kata sederhana seperti mama dan papa.
  • Ajari berdiri dan berjalan dengan berpegangan.
Biasanya susia 9 bulan anak sudah mulai merambat dan usia 12 bulan ia sudah dapat berjalan berpegangan.
  • Beri mainan yang aman dipukul-pukul.
Seusia ini bayi biasanya senang memukul-mukul dan melempar mainannya, oleh karena itu beri mainan yang aman untuknya.
C.  Umur 1-2 tahun.
  • Berikan pujian bila ia berhasil melakukan sesuatu, misalnya ketika ia benar menunjuk gambar atau benda yang kita tanya, mampu menghabiskan makanannya, dan sebagainya.
Memberikan pujian dapat membangun rasa percaya diri anak.
  • Ajari berjalan diundukan atau ditangga.
  • Ajak bernyanyi.
Dengan bernyanyi dapat membantu memperbanyak pembendaharan kata pada anak, dan menurut saya dengan bernyanyi dapat menimbulkan efek senang pada anak serta dapat membangun kedekatan kita dengan anak.
  • Ajak bermain.
Pada usia ini biasanya anak sudah mulai senang bermain.
  • Bacakan cerita anak.
Membacakan cerita juga dapat membantu memperbanyak pembendaharan kata pada anak selain itu anak juga dapat mengetahui berbagai macan peran, bentuk, dan peristiwa serta hal ini pun dapat merangsang perkembangan otaknya.
  • Ajak membereskan mainan.
Hal ini dapat mengajarkan kedisiplinan dan tanggung jawab pada anak.
  • Ajak membersihkan meja dan menyapu.
Hal ini dapat mengajarkan kedisiplinan dan kebersihan pada anak.
  • Ajari memcoret-coret di kertas.
Pada usia ini biasanya anak sudah bisa mencoret-coret dan untuk menerapkan kedisplinan maka ada baimya ajarkan anak untuk menulis di kertas agar tidak terbiasa mencoret-coret tembok atau pada tempat lainnya.
  • Ajari menyebut bagian tubuhnya.
Hal ini dapat membantu anak mengenal bagian tubuhnya sehingga ia mampu menunjuk satu atau beberapa bagian tubuhnya, seperti mata, hidung, mulut, tangan, kaki, rambut, telinga dan sebaginya. 
Pengajaran ini dapat dilakukan dengan bernyanyi untuk mempermudah anak menghapal bagian-bagian tersebut, dapat dilakuakn ketika kita sedang memandikannya, dan atau memakaikannya baju dan sebagainya.
Con:
  1. Ayu nak mama sabunin dulu ya tangannya.
  2. Pakai celanya dulu nak, sini angkat kaki kanannya.

D.  Umur 2-3 tahun.
  • Ajari buag air besar dan kecil di tempatnya.
Hal ini dapat membantu kedisiplinan pada anak dan agar supaya ia tidak lagi membuang kotorannya disembarang tempat.
  • Ajari berpakain sendiri.
Hal ini dapat mengembangkan sikap kemandiriannya dan membantu anak untuk dapat memakai pakaiannya sendiri.
  • Bacakan cerita anak.
Membacakan cerita juga dapat membantu memperbanyak pembendaharan kata pada anak selain itu anak juga dapat mengetahui berbagai macan peran, bentuk, dan peristiwa serta hal ini pun dapat merangsang perkembangan otaknya.
  • Ajak melihat buku bergambar.
Dengan melihat buku bergambar dapat membantu anak mengenal warna dan dapat membuat anak tertarik dengan buku yang sedang dilihatnya.
  • Ajari makan di piringnya sendiri.
Hal ini dapat mengajarkan anak untuk makan makanannya sendiri tanpa harus disuapi oleh orang lain.
  • Ajari cuci tangan.
Mengajari anak mencuci tangan merupakan salah satu cara untuk menjaga kebersihan tubuhnya, terlebih setelah ia memegang sesuatu yang kotor seperti tanah, bulu hewan, makanannya, dan sebagainya.
E.  Umur 3-5 tahun.
  • Awasi anak mencoba hal baru.
Pada usia ini anak biasanya sudah senang mengayun sepeda, melompat-lompat dengan satu kaki, menari-nari dan sebagainya, maka ada baiknya kita juga harus tetap memperhatikan tingkah lakunya agar dapat terhindar sesuatu yang tidak diinginkan.
  • Minta anak menceritakan apa yang ia lakukan.
Hal ini dapat merangsang anak untuk menjawab pertanyaan dengan kata-kata yang benar.
  • Dengarkan ia ketika bicara.
Tidak ada salahnya, kita selaku orang tua mendengarkan apapun yang sedang dibicarakan oleh anak walaupun terkadang hal yang ia ceritakan merupakan hal yang tidak penting bagi kita, tetapi sesungguhnya menjadi pendengar yang baik untuk anak merupakan salah satu hal yang harus kita lakukan untuk membantu mereka mengungkapkan apa yang setang ia rasakan, apa yang telah ia alami, dan apa yang ia mau (mengembangkan perkembangan emosinya).
Mendengarkan cerita maupun keluhan anak juga dapat membantu membangun kepercayaan diri mereka, membangun rasa percaya mereka kepada kita, orang lain, dan lingkungan, karena dengan didengarkan membuat mereka merasa didengar, dipedulikan, dan dihargai.
  • Jika ia gagap ajari bicara pelan-pelan.
Jika pada usia ini anak sulit untuk berbica lancar maka ada baiknya kita mengajarkan ia untuk berbicara pelan-pelan dan membantunya mengucapkan kalimat dengan benar serta membantunya membuang kebiasaan bicara terbata-batanya.

Daftar pustaka:
  1. Buku Kesehatan Ibu dan Anak. 2011.   Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
  2. B. Hurlock, Elizabeth. Perkembangan Anak Jilid 1. 1978. Erlangga.

Minggu, 09 Desember 2012

Pola Mengasuh Anak Sejak Umur 1,5 -3 Tahun

Bekasi, 10 Desember 2012


Wah hari ini saya menemukan sebuah buku bagus yang sudah lama tertumpuk di meja, sebuah buku saku yang pernah saya dapatkan dari orang tua ketika saya baru memperoleh buah hati.

Dan hari ini izinkan saya berbagi mengenai isi buku kecil ini dan beberapa contoh sederhana yang biasanya saya terapkan kepada sang buah hati berdasarkan beberapa sumber yang pernah saya peroleh, semoga pembahasan kita kali ini dapat bermanfaat bagi kalangan ibu muda ataupun masyarakat pada umumnya.

Tahapan perkembangan anak pada usia 1, 5 - 3 tahun disebut pula dengan tahapan pembentukan kemandirian hal ini disebut demikian karena pada usia ini anak telah bertambah matang dalam perkembangan fisik, dan sudah dapat berbicara dan berjalan. Ia mulai menyadari bahwa gerakan badannya dapat diaturnya sendiri, dikuasai dan digunakan untuk suatu maksut.

Pada tahapan ini sebagai orang tua ada baiknya melakukan hal-hal sebagai berikut:
  • Memberikan dorongan agar anak dapat bergerak bebas namun orang tua harus bersikap tegas untuk melindungi bahaya. 
Contoh: 
Biarkan anak belajar menulis atau mencoret-coret semaunya tapi tetap harus memperhatikannya jangan sampai alat tulisnya ia masukan kedalam mulutnya.

Tips:

  1. Biasakan anak untuk menulis di buku tempat ia belajar menulis agar anak tidak sembarangan menulis (hal ini dapat mengurangi anak untuk mencoret-coret tembok).
  2. Gunakan alat tulis yang aman misalnya pensil, pulpen, dan sepidol khusus anak yang hanya berisi air putih sebagai tintanya, atau papan tulis yang alat tulisnya menggunakan magnet untuk menulisnya. Kalau bisa jangan dulu menggunakan spidol atau krayon karena selain spidol memiliki bau kedua alat ini juga takut termakan karena dalam tahun-tahun ini anak masih suka memasukan benda kedalam mulutnya.

  • Mengajak anak dan berbicara dengan kalimat pendek-pendek yang penuh arti.
Tips:
Intinya kita selaku orang tua banyak-banyaklah berkomunikasi dengan anak baik dengan kata-kata ataupun bahasa tubuh kita, misalnya mengatakan tidak sambil menggelengkan kepala bila kita melarang mereka dan bertepuk tangan sambil memujinya bila ia melakukan hal yang baik dan benar. 
Mengajarkan kosakata ataupun kalimat kepada anak selain memperbanyak komunikasi ada baiknya kita juga menyanyikan atau mendengarkan mereka beberapa lagu anak-anak sambil sedikit-sedikit mengajak ia bernyanyi dengan kita.

  • Memberikan kesempatan makan sendiri.
Pada usia ini ajarkan anak untuk membiasakan makan makanannya sendiri, selain menjarkan agar mereka dapat makan sendiri ini juga dapat mengurangi beban kita dalam mengasuhnya.
Tips:
Bila anak sulit untuk makan, cobalah memberikan makan yang bervariasi, ciptakan suasana makan yang menyenangkan (bisa sambil menyetelkan musik ataupun acara kesenangannya) dan ajak makan bersama-sama dengan kita. Bila masih susah juga, maka beri anak banyak makan buah, kue-kue, atau susu agar asupan gizi tetap terpenuhi. Tapi kita juga jangan cepat menyerah, karena mereka susah makan maka kasih saja susu. 

  • Mendorong anak mau bermain dengan anak lainnya.
Mendorong anak untuk bermain dengan anak lain ini sama saja mengajarkan mereka bersosialisasi dengan teman sebayanya, mengenalkan beragam gender, pengelompokan tua dan muda, dapat mengembangkan motorik halus dan kasarnya, serta dapat mengembangkan kepercayaan dirinya.

  • Memberi anak permainan yang sederhana. 
Contoh:
  1. Permainan tebak gambar
  2. Menyusun balok
Tips:
Permaian yang kita berikan harus permainan yang dapat mengasah intelegensi,  keterampilan motorik, dan kreatifitasnya.

  • Melatih sopan santun dan disiplin secara sederhana.
Contoh:  
  1. Mencium tangan bila ayah ibunya baru pulang atau pergi.
  2. Mengucapkan salam bila datang dan pergi.
  3. Menaruh atau merapihkan kembali barang-barang yang telah dimainkannya.

 Bila pada tahapan ini anak terjadi masalah dalam mencapai rasa kemandiriannya maka:
  1. Anak dikuasai oleh rasa malu dan ragu-ragu serta pengekangan diri yang berlebihan.
  2. Dapat terjadi sikap melawan dan berontak.
  3. Kesulitan makan, terutama bila ibu memaksa makan.
  4. Suka ngambek, tingkah laku kejam atau sadistik.
  5. Tingkah laku menentang dan keras kepala. Hubungan dengan orang lain diwarnai oleh sikap menyerang atau agresif.
Sekian dulu pembahasan dari saya, semoga bermanfaat.............................


Daftar pustaka:

Direktorat Kesehatan Jiwa Masyarakat, Direktorat Jendral Bina Kesehatan MAsyarakat Departemen Kesehatan RI. Pola Mengasuh Anak Sejak Umur 1,5 Tahun Sampai 3 Tahun. 2007. Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta.

Minggu, 19 Juni 2011

Tugas-tugas Perkembangan Menurut Havighurst

Tugas perkembangan menurut Havighurt adalah tugas-tugas yang harus diselesaikan oleh individu pada fase-fase atau periode kehidupan tertentu. Apabila individu tersebut berhasil mencapai tugas perkembangannya di periode tersebut maka ia akan bahagia, namun sebaliknya bila ia tidak mencapai atau gagal pada tugas perkembangannya maka ia akan kecewa dan dicela oleh orang tua atau masyarakatnya, selain itu ia juga akan mengalami kesulitan dalam menjalankan tugas perkembangan di fase berikutnya.

Yang menjadi sumber dari tugas-tugas perkembangan menurut Havighurt adalah:
  1. Kematangan fisik
  2. Tuntutan masyarakat atau budaya dan nilai-nilai
  3. Aspirasi individu

Adapun tugas- tugas perkembangan menurut Havighurt adalah:
  • Masa bayi dan anak kecil
    1. Belajar berbicara
    2. Belajar berjalan
    3. Belajar makan- makanan padat
    4. Belajar mengendalikan pembuangan kotoran tubuh,

      Con:
      BAK dan BAB
    5. Mencapai stabilitas fisiologik
    6. Belajar membentuk pengertian yang sederhana mengenai realitas fisik dan sosial
    7. Belajar kontak perasaan dengan orang tua, keluarga, dan orang lain di luar dirinya
    8. Belajar mengetahui mana yang benar dan mana yang salah
    9. Belajar mengembangkan kata hati/ hati nurani

  • Masa anak sekolah
    1. Pembentukan sikap yang sehat terhadap diri sendiri sebagai organisme yang sedang tumbuh

      Con:
      Mencuci tangan dan kaki sebelum tidur
    2. Belajar membebaskan diri dari ketergantungan

      Con:
      Tidak perlu diantarkan sekolah oleh orang tua
    3. Belajar peranan jenis kelamin
    4. Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan guna keperluan kehidupan sehari-hari

      Con:
      Mencium tangan dan memberi salam selum berangkat dan pulang sekolah
    5. Belajar ketangkasan fisik untuk bermain
    6. Belajar bergaul dengan teman sebayanya
    7. Mengembangkan sikap sehat terhadap kelompok dan lembaga-lembaga

      Con:
      Tidak takut jika harus pergi kesekolah
    8. Mengembangkan dasar-dasar kecakapan membaca, menulis, dan berhitung
    9. Mengembangkan kata hati, moralitas, dan skala-skala nilai

      Con:
      Hormat kepada orang yang lebih tua dan menyayangi orang yang lebih kecil darinya.

  • Masa Remaja
    1. Menerima keadaan jasmani dan menggunakannya secara efektif
    2. Menerima peran jenis kelamin sebagai pria dan wanita
    3. Blajar bergaul dengan kelompok anak-anak wanita dan anak-anak pria
    4. Mengembangkan skala nilai
    5. Menginginkan dan mencapai prilaku sosial yang bertanggung jawab

      Con:
      Jika ia berbuat salah maka harus mengakui kesalahannya dan berjanji untuk tidak melakukannya di masa yang akan datang
    6. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lainnya
    7. Secara sadar mengembangkan gambaran dunia yang lebih adekuat
    8. Persiapan mandiri secara ekonomi

      Con:
      Mulai menabung untuk keperluannya sendiri sehingga tidak perlu selalu meninta dari orang tua
    9. Pemilihan dan latihan jabatan, misalnya sudah mulai merancang masa depannya ingin menjadi apa dan harus bagaimana untuk menuju tujuan karir dan hidupnya
    10. Mempersiapkan perkawinan dan keluarga
  • Masa dewasa awal
    1. Menerima atau mengambil tanggung jawab warga negara

      Con:
      Ikut mensukseskan pemilihan umum dengan cara berpartisipasi mencoblos calon kepala daerah atau negara yang sesuai dengan hati nuraninya.
    2. Menemukan kelompok sosial yang menyenangkan untuk dirinya
    3. Memulai bekerja
    4. Memilih pasangan hidup
    5. Memulai membentuk keluarga
    6. Mengelola atau mengemudikan rumah tangga
    7. Belajar hidup dengan suami atau istri
    8. Mengasuh anak

  • Masa dewasa madya/ masa usia maya
    1. Menerima dan menyesuaikan diri terhadap perubahan fisik dan fisiologis

      Con:
      Menyadari bahwa tubuhnya tidak sebugar dulu sehingga mulai mengurangi pekerjaan yang berat
    2. Mencapai tanggung jawab soosial dan warganegara secara penuh
    3. Mengembangkan kegiatan-kegiatan untuk mengisi waktu senggang dengan dewasa

      con:
      Mengikuti pengajian di hari minggu
    4. Menghubungkan diri sendiri dengan pasangan hidup sebagia individu
    5. Mencapai dan mempertahankan prestasi yang memuaskan di dalam karir pekerjaan
    6. Membantu anak-anak remaja belajar menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan bahagia

      Con:
      Memberikan masukan dan pembelajaran bagaimana menjadi orang yang sukses di dalam karir kepada anaknya
Nah... berdasarkan paparan diatas, maka kita selaku orang tua atau yang akan menjadi orang tua, hendaklah lebih bijak menyikapi tumbuh kembang anak terlebih kita harus sudah menyikapinya semenjak dalam kandungan karena dalam proses-proses awal inilah terbentuk pertumbuah dan perkembangan yang pesat agar mereka dapat menjalankan tugas-tugas perkembangan sesuai periode usianya dan menjadi pribadi yang tangguh dikemudian hari.

Sumber:
Sabri, M. Alisuf. 1993. Pengantar Psikologi Umum dan Perkembangan. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya.

Selasa, 24 Mei 2011

Perkembangan Kognitif Menurut Jean Piaget

Jean Piaget merupakan biolog psikolog kelahiran Swiss tahun 1896 -1980. Ia merupakan salah satu tokoh yang banyak meneliti tentang masalah kognitif atau kemampuan berfikir yang mana teorinya bayak dijadikan acuan bagi para psikolog hingga saat ini.

Adapun perkembangan kognitif menurutnya dibagi menjadi empat tahap yaitu:
  1. Tahap Sensori Motor (0 - 2 tahun)
    Pada tahap ini perkembangan anak lebih bersifat motorik dan lebih merupakan latihan dari schema yang sudah ada seperti:

    • Mengisap
    • Menggenggam
    • Prilaku sederhana seperti berlari dan berjalan

    Setelah enam bulan sebelum masa ini (sekitar 18- 24 bulan), anak mulai bisa melakukan operations dimana pada bulan-bulan tersebut dianggap sebagai timbulnya kemampuan berfikir yang sebenarnya.

  2. Tahap Pra-operasional (2- 7 tahun)
    Pada tahap ini anak sudah bisa melakukan representatif simbolis yang ia dapatkan dari rangsangan-rangsangan melalui indranya.

    Tahapan pra-operasional ini dibagi menjadi dua bagian yaitu:
    1. Masa prakonseptual (2-4 tahun)
      Masa prakonseptual ditandai dengan pola pikir egosentris dimana anak melihat dunia hanya dalam hubungan dengan dirinya sendiri.

      Pola pikir pada tahap ini dibagi menjadi dua yaitu:
      • Penalaran transduktif
        • Penalaran dimana anak menarik kesimpulan pada suatu peristiwa tertentu.

          con:
          Ketika anak melihat bebek peliharaannya bertelur maka ia beranggapan bahwa setiap binatang pasti bertelur

        • Atau penalaran dimana anak menarik kesimpulan pada ciri-ciri objek tertentu.

          con:
          Motor dan sepeda itu sama karena bannya ada dua

      • Penalaran sinkretik
        Penalaran jenis ini terjadi bila anak mulai selalu mengubah-ubah kriteria klasifikasinya.

        con:
        Pada mulanya seorang anak mengelompokan melati, mawar, kamboja, lili, dan angrek sendiri-sendiri, kemudian ia mulai mengelompokan mereka berdasarkan warnanya; lalu besar kecilnya; dan kemudian wangi tidaknya

    2. Intuitif (4-7 tahun)
      Pola pikir anak masih berdasarkan intuisinya atau perasannya, penalarannya masih kaku, terpusat pada bagian-bagian tertentu dari objek, dan masih semata-mata didasarkan atas penampakan dari objek.

      con:
      Sepeda rodanya ada dua jadi kalau rodanya lebih dari dua maka itu bukan sepeda.

  3. Tahap Operasional Konkrit (7- 12 tahun)
    Seorang anak pada tahapan ini sudah dapat berfikir secara konservasi dan seriasi meskipun pemikiran logisnya masih berdasarkan oleh objek yang konkrit.

    1. Konservasi
      Dimana anak sudah mempunyai penalaran bahwa suatu objek yang diubah bagaimanapun bentuknya bila tidak ditambah atau diurangi, maka volumenya akan tetap.

      con:
      Air satu liter di ember akan tetap sama volumenya walaupun dimasukan kedalam bak mandi.

    2. Seriasi
      Anak sudah mulai mampu mengklasifikasikan objek menurut berbagai macam cirinya, misalnya tinggi, besar, warna, wangi, bentuk dll.

      con:
      Bunga mawar, melati, dan kenanga merupakan beberapa bunga yang mempunyai bau yang harum.

  4. Tahap Operasional-formal (>12 tahun)
    Ditahap ini anak sudah mampu membayangkan bentuk suatu benda tanpa harus melihat objek benda tersebut. Pola berfikirnya sudah lebih fleksibel dan mampu melihat persoalan dari berbagai sudut pandang.

    con:
    • Meskipun sepeda yang ia lihat rodanya ada 4 tapi tetap saja namanya itu sepeda.

Sumber:
Irwanto. 2002. Psikologi Umum. Jakarta: PT. Prenhallindo.

Sabtu, 20 Maret 2010

Perubahan Fisik Dewasa Madya

Dewasa Madya

Rentang usia dewasa madya atau yang disebut juga usia setengah baya pada umumnya berkisar antara usia 40 - 60 tahun, dimana pada usia ini ditandai dengan berbagai perubahan fisik maupun mental (Hurlock, 1980:320).

Masa usia dewasa madya diartikan sebagai suatu masa menurunnya keterampilan fisik dan semakin besarnya tanggung jawab, suatu periode dimana orang menjadi sadar akan polaritas muda-tua dan semakin berkuranggya jumlah waktu yang tersisa dalam kehidupan, suatu masa ketika orang mencapai dan mempertahankan kepuasan dalam karier, dan suatu titik ketika individu berusaha meneruskan suatu yang berarti pada generasi berikutnya.

Perkembangan Fisik

Menurut Hurlock (1980), baik pria maupun wanita selalu terdapat ketakutan, dimana penampilannya pada masa ini akan menghambat kemampuannya untuk mempertahankan pasangan mereka, atau mengurangi daya tarik lawan jenis.

Selain itu, sebuah penelitian dalam Nowark (1977) sebagaimana yang dikutip oleh Jhon F. Santrock (1995), menemukan bahwa perempuan berusia dewasa madya lebih memfokuskan perhatiannya pada daya tarik wajah dari pada perempuan yang lebih muda atau tua. Dalam penelitian ini, wanita dewasa madya lebih mungkin menganggap tanda-tanda penuaan sebagai pengaruh negatif terhadap penampilan fisiknya.

Adapun beberapa perubahan fisik mulai tampak lebih awan di usia 30 tahun, tetapi pada beberapa titik atau bagian terjadi di usia 40 tahun, menurunnya perkembangan fisik menunjukan bahwa masa dewasa madya telah datang.


Beberapa perubahan fisik yang terjadi pada masa dewasa madya antara lain:

1. Timbulnya Uban.
2. Kulit mulai keriput.
3. Gigi yang menguning.
4. Tubuh semakin lama semakin pendek karena otot-otot melemah.
5. Punggung orang dewasa melemah kerena piringan sendi di tulang belakang mengalami penurunan.
6. Tulang-tulang bergeser lebih dekat antara yang satu dengan yang lainnya, misalnya, seorang laki-laki yang tingginya 5 kaki 10 inci pada usia 30 tahun barang kali akan menjadi 5 kaki 9 7/8 inci di usia 50 tahun, dan mungkin akan menjadi 5 kaki 9 1/4 pada usia 60 tahu.
7. Sulit melihat objek-objek yang dekat. Daya akomondasi mata, kemampuan untuk memfokuskan dan mempertahankan gambar pada retina mengalami penurunan paling tajam pada usia 40 dan 59 tahun.
8. Penurunan pada sensitivitas pendengaran.
9. Menopause. pada usia dewasa madya ini mereka akan mengalami periode menopaose, dimana pada periode ini haid dan kemampuan bereproduksi akan berhenti secara keseluruhan, sehingga dapat menyebabkan gejala yang tidak menyenangkan bagi wanita, seperti hot flushses, mual, letih, dan cepatya denyut jantung. hal ini disebabkan oleh menurunnya produksi hormon estrogen oleh indung telur.
10. Penurunan kebugaran fisik. masalah kesehatan utama pada masa dewasa madya antara lain penyakit kanker, kardivaskuler, dan obesita.

Dewasa Madya Menurut Pandangan Islam

Sudah menjadi ketentuan Allah SWT bahwa setiap manusia pasti akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan dalam rentang hidupnya, yaitu dari dalam kandungan menjadi masa kanak-kanan, remaja, dewasa, parubaya, dan kemudian menjadi lemah dan renta dimana kesemuanya memiliki karakteristiknya masing-masing. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Qs. Ar-Rum ayat 54:

"Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu
) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa"


Orang yang telah mencapai usia 40 tahun biasanya mulai menampakan tanda-tanda penuaan yang diantaranya menurut Muhammad Musa Syarif (2007) adalah tampak penuaan pada rambut kepala dan jenggotnya, dimana pada sebagian orang karena penuaan ini mereka merasa takut, gelisah, dan berusaha menyembunyikan tanda penuaan yang telah nampak, sehingga tidak jarang mereka merubahnya dengan berbagai cara dan media.


Sumber:
Elizabeth Hurlock. (1980). Psikologi Perkembangan Suatu pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.

Jhon F. Santrock. (1995). Life-Span Development Perkembangan Masa Hidup. Jakarta: Erlangga.

Muhammad Musa Yarif. (2007). Gemilang di Usia 40 Tahun saat Tepat Memantapkan Langkah Meraih Keberhasilan Puncak di Masa Produktif. Jakarta: Grafindo.

Senin, 08 Maret 2010

Perkembangan Masa Remaja

Pengertian Remaja

Istilah Adolescence berasal dari bahasa latin adolescare yang berarti ‘tumbuh’ atau ‘tumbuh menjadi dewasa’. Dalam kamus psikologi yang ditulis oleh J.P. Chaplin, 2004, Adolescence merupakan suatu periode antara pubertas dan kedewasaan, dimana usianya antara 12-21 tahun untuk anak gadis dan 13- 22 tahun untuk anak laki-laki.

Rentang usia masa remaja menurut zakiah daradjat (2003) dibagi menjadi dua, yaitu remaja awal dan remaja akhir. Dimana masa remaja awal berkisar antara 13-16 tahun dan remaja akhir antara 17-21 tahun.

Remaja awal

Perubahan yang paling menonjol pada masa ini adalah perubahan jasmani mereka yang relative cepat .
• Tubuhnya bertambah cepat akan tetapi tidak serentak seluruhnya sehingga menimbulkan ketidakseimbangan, gerak dan tubuhnya tampak kurang serasi. Contohnya;

Seorang remaja A memiliki poster tubuh yang tampak tinggi kurus dengan kaki, sedangkan hidung dan tangannya lebih besar dari bagian yang lainnya.

• Pada perkembangan kognitifnya, remaja sudah mampu berpikir abstrak dan mengambil kesimpulan yang abstrak dari kenyataan yang dilihat dan didengarnya.
• Perubahan pada kelenjar, dimana kelenjar kanak-kanak (thypus dan pienal) berhenti mengalir dan berganti dengan kelenjar seks (gonad) yang berfungsi memproduksi hormone-hormon sehingga bertumbuhlah tanda-tanda seks sekunder.

Beberapa tanda seks sekunder yang ada pada remaja yaitu;
o Pada remaja pria: terjadi perubahan suara, tumbuhnya rambut-rambut pada pangkal pipi, kumis, tumbunya jakun, dan sebagainya.
o Pada remaja putri: pinggul mulai membesar, timbulnya payudara dan kelenjar susu.

Perubahan jasmani yang relative cepat menimbulkan kecemasan pada remaja, sehingga menyebabkan terjadi kegoncangan emosi, kecemasan, dan kekhawatiran. Selain itu timbulnya dorongan seks yang memantul dalam tingkah laku dan perhatian mereka kepada lawan jenis.

Remaja akhir

Pada masa ini, perkembangan jasmani dan kecerdasannya sudah mendekati sempurna. Dengan kata lain, tubuh dan seluruh anggotanya telah dapat berfungsi dengan baik, kecerdasannya telah dianggap selesai pertumbuhannya , tinggal pengembangan dan penggunannya saya yang harus diperhatikan.

Dimasa ini terdapat berbagai gejolak perasaan yang membuat mereka terombang-ambing. Adapun gejolak yang terjadi antara lain;
1. Emosi yang saling bertentangan yang diantaranya di sebabkan oleh pertentangan dan ketidak
serasian yang terdapat dalam keluarga, sekolah dan masyarakat.

Emosi yang muncul biasanya diungkapkan dengan menggerutu, tidak mau berbicara, atau dengan suara keras mengkeritik orang-orang yang menyebabkan amarah. Dan kematangan emosi pada remaja terlihat bila mereka memiliki emosi yang stabil. Adapun cara yang dapat dilakukan untuk mencapai kematangan emosi adalah mereka harus belajar memperoleh gambaran tentang situasi-situasi yang dapat menimbulkan reaksi emosional dan belajar menggunakan katarsis emosi untuk menyalurkan emosinya. (Hurlock, 1980)
2. Adanya pertentangan antara ajaran agama dan pengetahuan umum.
3. Dorongan seks yang semakin terasa.

Selain itu remaja merasa dirinya telah dewasa, mereka berharap atau menginginkan perhatian dan tanggapan dari orang lain, baik itu dari orang tua, guru dan maupun masyarakat agar mereka dihargai dan diperlakukan seperti orang dewasa.

Tugas-tugas perkembangan pada masa remaja

Tugas perkembangan menurut Robert j Havighus adalah tugas yang muncul pada saat atau satu periode tertentu dari kehidupan individu dan jika berhasil akan menimbulkan fase bahagia dan membawa keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas perkembangan selanjutnya. Adapun tugas-tugas perkembangan yang harus dilakukan oleh remaja menurut Mohammad Ali dan Mohammad Asrori (2004) antara lain:
1. Mampu menerima keadaan fisiknya.
2. Mampu menerima dan memahami peran seks usia dewasa.
3. Mampu membina hubungan baik dengan anggota kelompok yang berlaian jenis
4. Mencapai kemandirian emosional.
5. Mencapai kemandirian ekonomi.
6. Mengembangkan konsep dan keterampilan intelektual yang sangat diperlukan untuk melakukan peran sebagai anggota masyarakat.
7. Mengembangkan prilaku tanggung jawab social yang diperlukan untuk memasuki dunia dewasa.
8. Memahami dan menginternalisasikan nilai-nilai orang dewasa dan orang tua.
9. Mempersiapkan diri untuk memasuki dunia perkawinan.
10. Memahami dan mempersiapkan berbagai tanggung jawab kehidupan keluarga.



Referensi:
1. Ali, Mohammad, dan Mohammad Asrori, Psikologi Remaja Perkembangna Peserta Didik, Jakarta: Bumi Aksara.
2. Chaplin, J.P, 2004, Kamus Lengkap Psikolog, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
3. Daradjat, Zakiah, 2003, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: Bulan Bintang.
4. Hurlock, E. B, 1980, Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Jakarta: Erlangga.

Entri Populer