Tampilkan postingan dengan label Penyusunan Skala Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyusunan Skala Psikologi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Mei 2011

Tampilan dan Administrasi Skala Psikologis

Salah satu hal yang harus diperhatikan dalam menyusun skala psikologis adalah penampilan fisik skala itu sendiri selain dari persyaratan psikometri sebagai alat ukur dan kualitas dari isi skala. Hal itu penting karena penampilan fisik skala yang menarik dapat membangkitkan minat responden untuk mengisi dan mendorongnya untuk sungguh-sungguh mengisi skala yang kita aberikan.

Kesungguhan inilah yang mendukung asumsi bahwa responden memberikan jawaban yang sesungguhnya dan sesuai dengan keadaan dirinya sehingga informasi yang kita peroleh menjadi data yang reliabel.

Adapun yang perlu diperhatikan dalam membuat tampilan skala antara lain:
  1. Format dan tata letak
    • Format ini berkaitan dengan bentuk aitem yang akan kita pilih, misalnya;
      'ya -tidak', 'setuju- tidak setuju', pilihan ganda dll

      Untuk pemilihan format ada baiknya kita memperhatikan usia dari responden, misalnya bila responden sudah menginjak usia yang relatif tua maka format aitem yang kita pilih ada baiknya yang sederhana (misalnya 'ya-tidak')

    • Pada pemilihan tata letak (lay-out) harus mempermudah responden dalam menjawab. contonya:
      - tidak membuat aitem yang terlalu banyak dalam satu halaman
      - antara 1 aitem dengan aitem lainnya di beri jarak namun dalam pemilihan jarak juga jangan terlihat pemborosan ruang sehingga skala terlihat sangat panjang.

      con:
      1. Saya adalah orang yang keras kepala ( ) ya ( ) tidak

      2. Saya sulit menerima kritikan dari orang lain ( ) ya ( ) tidak

    • Selain itu, dalam pembuatan skala juga diharapkan tidak adanya kesalah tulis ataupun cetak walau hanya satu huruf atau angka.

    • Untuk ukuran kertas, format lembaran berbentuk buku atau kwarto biasanya lebih menarik dari pada ukuran folio karena bentuk folio membuat aitem terkesan lebih banyak sehingga dapat membuat responden menjadi malas sebelum membacanya.

    • Tipe huruf yang digunakan ada baiknya yang sederhana dan jelas sehingga mudah dibaca, baru kemudian mempertimbangkan estetikanya karena mengingat responden yang sudah agak tua cendrung akan menjadi sulit bila kita menggunakan tipe tulisan seperti Bradley Hand ITC, Chiller dll.

  2. Penggunaan warna
    Tampilan skala yang dibuat baik dengan huruf maupun kertas yang berwarna cendrung akan terkesan menyenangkan, dapat mengurangi ketegangan, dan dapat menimbulkan apresiasi dari pada skala yang hanya hitam- putih.

    Namun bukan berarti kita menggunakan banyak warna ataupun warna yang mencolok dalam pembuatan skala karena yang ada responden menjadi malas membaca lantaran skala yang kita buat susah dibaca dan menyakitkan mata.

  3. Lembar jawaban
    Untuk memudahkan responden menjawab dan meminimalisirkan biaya, maka lembar jawaban dapat dipisah dari skala. Hal tersebut terutama bila dalam skala terdapat banyak aitem, jadi kita hanya menfoto copy lembar jawaban saja sedangkan skala dapat kita pergunakan berulang-ulang.

    Apabila kita menggunakan lembar jawaban, maka petunjuk menjawab hanya disajikan pada buku skala, sedangkan lembar jawaban hanya memuat tentang jawaban responden dan beberapa identitas responden yang berkaitan dengan tujuan penelitian.

  4. Data identitas
    Data nama, usia, jenis kelamin, agama, suku, gaji, dan sejenisnya biasanya dianggap sebagai informasi yang sangat pribadi sehingga ada baiknya kita menanyakannya bila memang itu betul-betul diperlukan, mengingat responden terkadang risih dan akan menjadi tidak terbuka atau tidak memberikan jawaban yang sesungguhnya.

    Nama responden diperlukan apabila skor skala dipergunakan untuk keperluan diagnosis individu atau dalam penelitian skor subjek dikaitkan dengan skor atau variabel lain, namun sebaliknya jika dipergunakan untuk diagnosis kelompok maka nama responden tidak selalu perlu dicantumkan.

  5. Intruksi atau petunjuk pengerjaan
    Intruksi atau petunjuk pengerjaan harus dibuat secara jelas dan ringkas, bila perlu diberikan contoh pengerjaan agar mempermudah responden dalam pengisian skala.

    con:
    Petunjuk Pengisian

    Berikut ini ada sejumlah pertanyaan mengenai kepercayaan diri dewasa madya. Pililah jawaban dengan cara memberi tanda silang (X) pada salah satu pilihan jawaban yang tersedia dikanannya. Kerjakan semua dengan cermat dan jangan melewatkan satu pertanyaan pun.

    Adapun arti pilihan jawaban tersebut adalah:

    SS : Sangat Setuju
    S : Setuju
    N : Netral
    TS : Tidak Setuju
    STS : Sangan Tidak Setuju

    Sumber:
    Azwar, Saifuddin, 2006, Penyusunan Skala Psikologi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Karakteristik Skala Psikologi

Skala psikologi memiliki karakteristik yang berbeda dengan alat ukur lain seperti angket dan daftar isian, karena skala psikologi umumnya digunakan untuk mengukur aspek atau atribut afektif.

Adapun karakteristik dari skala psikologi antara lain adalah;
  1. Stimulusnya berupa pernyataan atau pertanyaan yang tidak langsung mengungkapkan atribut yang hendak di ukur melainkan mengungkapkan indikator perilaku atribut yang bersangkutan.

    contohnya:
    Saya merasa orang lain lebih disuki dari pada saya

  2. Karena atribut psikologi diungkap secara tidak langsung lewat indikator-indikator perilaku sedangkan indikator perilaku diterjemahkan dalam bentuk aitem-aitem, maka skala psikologi berisi banyak aitem.

    contohnya:
    Indikator pandangan suami terhadap peran ganda wanita
    Aspek == > a. Pengasuhan anak : aitem no. 1, 5, 7, 8, 12
    b. Komunikasi dan interaksi dengan anak dan suami : aitem no. 2, 6, 10
    c. Tekanan karir dan tekanan keluarga: aitem no. 3, 4, 9, 11

  3. Respon subjek tidak diklasifikasikan sebagai jawaban "benar" atau "selah". Semua jawaban dapat diterima sepanjang di isi dengan jujur dan sungguh-sungguh, hanya saja yang berbeda akan diinterpretasikan berbeda pula.

    contohnya:
    Saya merasa orang lain lebih disuki dari pada saya
    (STS) (TS) (N) (S) (SS)


    Merasa kurangnya waktu kebersamaan dengan anak-anak
    (TP) (KD) (SR) (SL)
Berdasarkan karakteristik skala di atas, maka perlu dipahami bahwa skala dan angket itu berbeda. Adapun perbedaan keduanya antara lain:

  1. Angket : data yang diungkap berupa data faktual dan kebenarannya diketahui oleh subjek.
    con: jumlah anggota keluarga, penghasilan rata-rata pertahun, usia responden dll.

    Skala : data yang diungkap berupa konstrak atau konsep psikologis yang menggambarkan aspek kepribadian individu.
    con: sikap terhadap sesuatu, orientasi seksual, tingkat kepercayaan diri dll.

  2. Angket: berupa pertanyaan langsung terarah kepada informaasi yang hendak di ungkap
    con: sejak kapan anda memulai merokok

    Skala: pertanyaan sebagai stimulus untuk memancing jawaban yang merupakan refleksi dari diri subjek yang biasanya tidak disadarinya.
    con: Saya merasa orang lain lebih disukai dari pada saya

  3. Angket: responden tahu persis apa yang ditanyakan dan informasi apa yang hendak di cari dari responden.

    Skala: walaupun responden tahu isi pertanyaan, tetapi biasanya tidak menyadari arah jawaban yang dikehendaki dan kesimpulan apa yang sesungguhnya diungkap oleh pertanyaan tersebut.

  4. Angket: jawaban di beri angka coding sebagai identifikasi.

    Skala: responnya diberi skor melewati proses penskalaan.

  5. Angket: satu angket dapat mengungkap informasi mengenai banyak hal.

    Skala: satu skala hanya untuk mengungkapkan suatu atribut tunggal.
    con: tingkat sterss

  6. Angket: reliabilitasnya terletak pada kejujuran responden, sehingga reliabilitasnya tidak perlu di ukur secara psikometris.

    Skala: hasil ukurnya harus teruji reliabilitasnya secara psikometris dikarenakan relevansi isi dan konteks kalimat yang digunakan sebagai stimulus sehingga lebih terbuka terhadap error.

  7. Angket: validitasnya ditentukan oleh kejelasan tujuan dan lingkup informasi yang hendak diungkap

    Skala: validitasnya lebih ditentukan oleh kejelasan konsep psikologis yang hendak diukur dan operasionalnya.
Sumber:
Azwar, Saifuddin, 2006, Penyusunan Skala Psikologi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Selasa, 03 Mei 2011

Pengukuran Atribut Psikologi

Pada pendekatan penelitian kuntitatif, data penelitian hanya akan dapat diinterpretasikan dengan lebih objektif apabila melalui proses pengukuran yang valid, reliabel, dan objektif. Adapun pengukuran atribut-atribut psikologi sangat sukar untuk mencapai validitas, reliabilitas, dan objektifitas yang tinggi. hal ini dikarenakan antara lain;

1. atribut bersifat laten atau tidak tampak
2. aitem-aitem dalam skala psikologi didasari oleh indikator-indikator yang jumlahnya terbatas
3. respon yang diberikan oleh subjek sedikit banyak di pengaruhi oleh variabel-variabel tidak relevan seperti suasana hati subjek, kondisi, dan situasi di sekitar
4. atribut psikologi yang terdapat dalam diri manusia stabilitasnya tidak tinggi, banyak yang gampang berubah sejalan dengan waktu dan situasi
5. interprestasi terhadap hasil ukur psikologi hanya dapat dilakukan secara normatif.


Sumber;
Azwaar, Saifuddin, 2006, Penyusunan Skala Psikologi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Entri Populer